Tuesday, 9 May 2017

ENGLISH: Why Summer Daylight is Longger than Winter Daylight

Why Summer Daylight is Longger than Winter Daylight


In the summer, the amount of daylight that we get is more than we get in winter. This is not because as much people think we are closer to the sun but because of the tilt of the earth.

The earth is actually closer to the sun in winter than it is in summer but you would beforgiven for thinking that this can not be true after looking out of your window on a cold andfrosty morning.
 It seems strange that as the earth get closer to the sun during its orbit then the amount of daylight that we get decrease. But that is the case. It is the tilt of the earth that determine theamount of daylight that we get and so the length of time that for us the sun is above thehorizon

ENGLISH: Rain

The Process of Rain


 Water in the earth is kept in many places like the ocean, the ocean, the river and the lake. Butdon't be wrong, the plants leaves and the land also kept water.Each day, this water will evaporate with help of the sun. 

The process where water evaporatesfrom plants is called transpiration. Afterwards the vapour will experience the process of condensation where the vapour will condense and turn into a cloud. The form of the cloudalways changes according to weather conditions.The clouds will move to different locations with the help of wind that bellows vertically or horizontally. The movement of the vertical wind results in the cloud forming big 'lumps'.



After that, the wind increases the size of the cloud and each cloud will overlap. Finally thecloud will reach the atmosphere that has a lower temperature. Here the particles of water andice is formed.Eventually, the wind can not support the weight of the cloud and so the cloud that is full withwater will experience a process called precipitation or the process where rain or hail falls toearth

ENGLISH: How Earthquakes Happen

How Earthquakes Happen

Earthquake is one of the most destroying natural disasters. Unluckily it often happens in several regions. Recently a horrible earthquake has shaken West Sumatra. It has brought great damages. Why did it occur? Do you know how an earthquake happens?

Earthquakes are usually caused when rock underground suddenly breaks along a fault. This sudden release of energy causes the seismic waves. It make the ground shake. When two blocks of rock or two plates are rubbing against each other, they stick a little. They don't just slide smoothly. The rocks are still pushing against each other, but not moving. After a while, the rocks break because of all the pressure that's built up. When the rocks break, the earthquake occurs.


During the earthquake and afterward, the plates or blocks of rock start moving, and they continue to move until they get stuck again. The spot underground where the rock breaks is called the focus of the earthquake. The place right above the focus is called the epicenter of the earthquake

ENGLISH: Tsunami

Tsunami


The term of “tsunami” comes from the Japanese which means harbour ("tsu") and wave ("nami"). A tsunami is a series of waves generated when water in a lake or a sea is rapidly displaced on a massive scale.

A tsunami can be generated when the sea floor abruptly deforms and vertically displaces the overlying water. Such large vertical movements of the earth's crust can occur at plate boundaries.

Subduction of earthquakes are particularly effective in generating tsunami, and occur where denser oceanic plates slip under continental plates.

As the displaced water mass moves under the influence of gravity to regain its equilibrium, it radiates across the ocean like ripples on a pond.


Tsunami always bring great damage. Most of the damage is caused by the huge mass of water behind the initial wave front, as the height of the sea keeps rising fast and floods powerfully into the coastal area.

ENGLISH: How Chocolate is Made

How Chocolate is Made

Have we wondered how we get chocolate from? Well this time we will enter the amazing world of chocolate so we can understand exactly we are eating.

Chocolate starts a tree called cacao tree. This tree grows in equatorial regions, especially in place such as South America, Africa, and Indonesia. The cacao tree produces a fruit about the size of a small pine apple. In side the fruits are the tree's seeds. They are also known as coco beans.

Next, the beans are fermented for about a week, dried in the sun. After that they are shipped to the
chocolate maker. The chocolate maker starts by roasting the beans to bring out the flavour. Different beans from different places have different qualities and flavour. So they are often shorted and blended to produce a distinctive mix.

The next process is winnowing. The roasted beans are winnowed to remove the meat nib of the cacao bean from its shell. Then the nibs are blended. The blended nibs are ground to make it a liquid. The liquid is called chocolate liquor. It tastes bitter.


All seeds contain some amount of fat and cacao beans are not different. However, cacao beans are half fat, which is why the ground nibs from liquid. It is pure bitter chocolate.

CERPEN: Hujan Di Atas Ciuman

HUJAN DI ATAS CIUMAN

Tato
Sekarang sudah memasuki musim penghujan. Biasanya setiap hari langit akan berwarna abu-abu lalu memuntahkan biji-biji air. Jalanan akan basah, banjir, dan macet terjadi di mana-mana. Aku tidak mengerti kenapa Lin begitu tergila-gila pada sebuah musim yang hanya bisa menjanjikan basah, pikirku sambil memandang kanvas besar di hadapanku.
Aku merasa kanvas besar ini lebih menarik dari pada abu-abu yang tergantung di langit. Abu-abu ? Hei, mendadak aku merasa perlu untuk menyakinkan kalau langit memang sedang berwarna abu-abu. Aku melemparkan pandangan keluar jendela dan ternyata langit memang sedang abu-abu. Tiba-tiba aku teringat sekujur novel Lin yang terbaru. Ciuman di Bawah Hujan, judulnya. Cukup menarik tetapi kenapa begitu abu-abu ?
Lin
Aku mempercepat laju motorku. Angin menabrak dadaku. Aku mengetatkan geraham menahan rasa yang asing. Bukan rasa gigil. Tetapi dadaku seakan terbakar sampai bolong. Padahal aku tidak merokok. Mungkin panaslah yang akan kita rasakan jika terlalu kedinginan. Misalnya, seperti saat kita menggenggam es batu.
Sementara itu wajah langit tampak semakin murung. Aku yakin sebentar lagi pasti turun hujan. Ternyata benar. Mulai ada yang menimpaku setitik demi setitik. Motor pun semakin kupacu. Aku tidak mau basah kuyup di jalanan. Terbayang secangkir teh sepat panas di studio lukis Tato. Pasti hangatnya melegakan dada. Aku pun membayangkan diriku sedang flu kemudian seseorang mengosokkan balsam ke dadaku. Seseorang yang menurut Tato terlalu abu-abu: Rafi.
Tato
Bulan sudah menyembul. Tetapi tidak lama karena jarum-jarum perak telah dicucurkan langit. Curahnya rapat sampai tampak seperti tirai yang selalu patah bila disibakkan.
Aneh, Lin belum datang juga. Padahal Lin paling tidak suka dengan kebiasaan jam karet. Aku sudah tidak sabar hendak menunjukkan lukisanku padanya.
”Merah?!” seru Lin ketika kuceritakan lukisanku berwarna merah. ”Apakah kau tidak mempunyai pilihan warna lain? Karena aku sudah terlalu akrab dengan merah. Tiang-tiang di kelenteng, tubuh naga, ikan koi, bunga peony, baju baru ketika perayaan Imlek, angpau, lampion, semua itu merah…” Suaranya terdengar mengambang.
”Tetapi ini merah yang lain, Lin.”
Aku memang tidak melukis semua yang disebut Lin. Tidak ada tiang-tiang kelenteng, tubuh naga, baju merah, angpau atau lampion di atas kanvasku. Yang ada hanya merah. Aku mengambil kuas dan menambahkan merahnya. Aku masih menunggu Lin.
Lin
Tato pasti sedang menungguku. Semoga saja ia tidak kesal karena keterlambatanku. Aku sedang mengalami sedikit masalah di jalan. Hujan membuat jalanan terlalu licin untuk diriku yang sedang ditunggu. Dan entah ke mana sinar bulan. Ups, motorku…
Kemarin Tato memberi tahu tentang lukisannya yang hampir selesai. Lukisan merah yang disiapkannya untuk kami. Maksudku, lukisan merah itu disiapkan Tato untuk pameran lukisannya sekaligus terinspirasi dari novel terbaruku yang berjudul Ciuman di Bawah Hujan.
Tetapi kenapa harus merah?
”Aku ingin warna lain,” cetusku.
”Abu-abu?” tanyanya dengan nada yang sangat datar sehingga aku tidak bisa mengartikan apa maksudnya.
Oh, aku tidak mengerti kenapa kami jadi berdebat mengenai warna. Mungkin warna dan segala ronanya bukan masalah bagi pelukis seperti Tato. Setiap hari ia bergumul dengan warna. Tetapi berbicara tentang warna selalu membuatku mulas. Rasanya seperti sedang membicarakan warna bendera partai politik saja. Atau warna kaos kampanye.
Aku jadi teringat kepada seorang rahib Buddha Tantra dari Taiwan. Ia selalu mengibarkan bendera panca warna: merah, biru, hijau, kuning dan putih secara berjajar. Menurutnya, semua kuil-kuil di Taiwan, Tibet, Nepal dan sebagian India, selalu mengibarkan bendera panca warna itu. Dari suara yang ditimbulkan kelepak sayap bendera-bendera itu, kita bisa mendengar kabar berita yang dibawa angin dari seluruh penjuru. Nah, bukankah sebenarnya banyak warna menjadikan hidup lebih kaya?
”Bagaimana kalau cokelat saja? Cokelat rasanya lebih nyaman,” akhirnya kupilih sebuah warna sebelum mulasku menjadi-jadi. ”Cokelat warna kayu…”
”Juga warna daun layu…,” potongnya.
Tetapi kenapa tiba-tiba aku semakin merah?
Tato
Curah dari langit semakin bertubi. Tetes-tetesnya seperti berlomba lari dari atap. Kucoba untuk menerka apakah sebenarnya warna hujan? Bening? Lalu bagaimana kebeningan itu harus kulukiskan ke atas kanvas?
”Sinar mata Rafi bening sekali, Tato! Seperti bulan…” seru Lin. ”Rafi pernah menatapku lama sekali. Aku juga menatapnya. Tahukah kau seperti apa rasanya? Aku seperti dihujani cinta!”
Lalu ia menyanyi dengan suara sumbangnya yang merusak telingaku. Aku ingin menyuruhnya berhenti. Tetapi ternyata lagunya syahdu sekali.
Ni wen wo ai ni you duo shen
Wo ai ni you ji fen
Wo de qing ye zhen
Wo de ai ye zhen
Yue liang dai biao wo de xin
”Itu lagu Teng Lie Chin, Yue Liang Dai Biao Wo De Xin,” ia menjelaskan tanpa kuminta dengan pipi berhiaskan merah yang menjadi-jadi.
Apalagi ketika ia mengatakan bahwa Rafi seperti Shah Rukh Khan, bintang film India tersohor itu. Dan pujiannya meluncur deras seperti hujan ketika menceritakan Shah Rukh Khan saat mem bintangi Kuch Kuch Hotta Hai, Kabhi Kushi Kabhie Gham, Asokh sampai Devdas.
Olala, aku tidak menyangka novelis seperti Lin ternyata penggemar film India. Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya Lin sedang jatuh cinta kepada Rafi atau Shah Rukh Khan?
Tetapi kepada siapa pun ia jatuh cinta, rupanya Lin sedang membawa warna merah muda.
Lin
”Kau gila!” kata Tato saat kukatakan bahwa diriku jatuh cinta kepada Rafi karena ia secokelat Shah Rukh Khan. Menurutnya, aku lebih pantas menggilai Andy Lau, Chow Yun Fa, atau Jet Lee saja.
Tetapi begitulah kenyataannya.
Aku hanya melihat warna cokelat ketika bersisian dengan Rafi. Ia meletakkan lengannya di atas meja sehingga bisa kulihat dengan jelas kuku-kukunya yang cemerlang. Bentuk siku lengannya indah sekali. Dan mataku langsung menyimpan memori tentang warna kulitnya yang tampak seperti es krim cokelat. Begitu menggiurkan.
Saat itu juga kubayangkan bagaimana seandainya jika es krim cokelat yang kujilati itu mencelomoti bibirku. Kira-kira apa yang akan dilakukan Rafi? Apakah ia akan membersihkan celemotan di bibirku itu dengan bibirnya?
Aiiii…Tiba-tiba kurasakan tubuhku terlempar tinggi. Aku berusaha menghentikan tubuhku yang meluncur deras. Tetapi hujan adalah basah yang tidak bisa dicegah.
Kenapa sekarang cokelat berubah menjadi merah? Awalnya merah muda, merah dadu, lalu…bulan menghilang…
Ni wen wo ai ni you duo shen
Wo ai ni you ji fen
Wo de qing bu yi
Wo de qing bu yi
Wo de ai bu bian
Yue liang dai biao wo de xin
Tato
Lin masih belum juga datang sementara hujan semakin deras. Mendadak aku cemas ketika menyadari Lin sama sekali belum mengirim SMS. Apakah Lin tersesat karena sinar bulan menghilang?
Lin
Merah.
Tato
Biji-biji hujan tempias di lantai studio sampai menjadi genangan bercak. Aku terkejut ketika ada butir-butir yang memerciki kanvasku sehingga melembab. Tetapi aku yakin itu bukan karena pulasan kuasku. Angin kian menerbangkan basah.
Aku seperti mendengar suara Lin, ”kalau jatuh cinta itu merah muda, lalu apa warna patah hati?”
Aneh, bukankah seharusnya yang kudengar adalah suara hujan?
Ah, itu dia Lin!
Aku melihatnya sedang berusaha menerabas hujan. Tetapi tetap saja tirai basah itu tidak bisa ditembusnya. Ia menguakkan selapis tetapi sebelum ia keluar dari sana, selapis yang lain sudah menimpanya lagi.
Tubuhnya kuyup. Matanya sayup. Suaranya surup…
Ni wen wo ai ni you duo shen
Wo ai ni you ji fen
Ni qu xiang yi xiang
Ni qu kan yi kan
Yue liang dai biao wo de xin
”Patah hati tidak pernah dilukiskan. Tidak ada yang suka mengalami patah hati. Eh, siapa yang sedang patah hati?” sahutku sambil berusaha menerka kegilaan apalagi yang akan didongengkan Lin.
”Aku,” itu suara hujan atau suara Lin?
”Kau?” aku kian meragukan pendengaranku. ”Kau tidak tampak seperti patah hati. Orang patah hati tidak pernah memberikan pengumuman kalau ia sedang patah hati. Dan hanya perempuan tidak tahu malu yang melakukan itu,” sahutku sambil berusaha menyakinkan diri bahwa aku sedang berbicara dengan Lin.
”Itu karena aku sudah profesional mengelola rasa patah hatiku. Sama profesionalnya seperti ketika aku jatuh cinta,” jawabannya membuatku merasa cacat di otaknya semakin sulit untuk disembuhkan.
”Patah hati kepada siapa?”
”Rafi.”
”Shah Rukh Khan itu?!” aku tersengat. Oh, Lin…
”Bagaimana kalau patah hati dilukiskan dengan warna hijau?” Ia menyergah tanpa ada rona merah lagi di pipinya. Aku melihatnya bergelombang. Ia ada di balik hujan rapat yang disapu angin.
”Lin, hijau itu untuk daun, untuk rumput, untuk padi, untuk kehidupan…”
Kucoba mencolek sedikit warna hijau untuk menyempurnakan tetes-tetes air di atas kanvas merah.
Untuk Lin. Untuk Rafi. Untuk kehidupan.
Lin
Tato tidak percaya ketika kuceritakan bahwa aku sedang patah hati. Ia bahkan tertawa sambil memelintir rambut gondrongnya yang dikepang kecil-kecil. Ia gembira seperti sedang mendengar kelanjutan novelku untuk memberikan sentuhan akhir pada lukisannya.
”Rafi mencampakkan diriku seperti sampah,” aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Tato. Aku tidak mau ia melukis warna air mataku.
”Wah, segitu amat? Memangnya kau dihamili Rafi?”
”Masalahnya, justru aku belum dihamili Rafi! Seandainya aku sudah dihamilinya tentu ia tidak akan setega itu,” tiba-tiba aku tersakiti ketika mengatakan hal itu.
Aku mau mati saja.
Tato
Hijau.
Lin
Aku tidak tahu sekarang terjebak di mana. Yang kutahu, sekujur diriku dibasahi merah. Hei…apa itu yang sedang menetes?
Tato
Aku seperti mendengar Lin sedang menceritakan sebuah episode baru tentang patah hati. Rafi yang digilainya setengah mati itu membuangnya seperti ingus. Aku senang mendengar bagian cerita ini. Setidaknya ini bukan cerita merah muda yang berbunga-bunga lagi.
”Apakah kau sudah yakin kalau sekarang Rafi tidak mencintaimu lagi? Atau dulu kau saja yang terlalu yakin kalau Rafi mencintaimu?” Aku membutuhkan kepastian Lin untuk menyelesaikan lukisanku. Bukankah sebuah novel pun harus mempunyai akhir?
Tetapi Lin seperti tahu apa yang kupikirkan.
”Sebuah cerita tidak harus diakhiri dengan titik. Sebuah cinta juga tidak harus dipastikan seperti apa.”
”Kalau begitu, kenapa Rafi meninggalkanmu?” mendadak aku ingin tahu. Bukankah semua sebab selalu menimbulkan akibat. Dan segala akibat selalu didahului oleh sebab.
”Karena Rafi menyamakan perasaanku seperti baju safari. Aku tidak menyangka ternyata ia menghargai perasaanku semurah itu. Jadi sekarang ia sibuk mempertuhankan baju safari dan mempersetankan diriku.”
Astaga! Cerita gilanya yang mana lagi ini?
Aku meyakini bahwa hidup memang penuh pilihan. Seperti aku memilih menjadi pelukis dan Lin memilih menjadi pengarang. Lalu ada yang lain memilih jadi wali kota, gubernur, menteri, presiden atau politisi. Itu pilihan yang sama terhormatnya dengan memilih jadi guru, wartawan, pedagang kelontong, seniman atau petani. Karena manusia harus memilih salah satu di antaranya. Kalau tidak, maka hidup yang menentukan pilihan untuk manusia. Dan manusia harus sama-sama menangis ketika merayakan kegagalan dan keberhasilannya. Kurasa karena alasan itu, Tuhan menciptakan air mata untuk manusia.
Tetapi bagaimana dengan pilihan-pilihan Lin?
Shah Rukh Khan atau Rafi?
Baju safari atau Lin?
Astaga…Pilihan-pilihan model apa itu?
Terus terang saja, aku tidak bisa menakar seberapa berharganya Rafi untuk Lin. Aku juga tidak tahu di sekat sebelah mana Lin menyembunyikan Rafi. Tetapi Lin meratapi Rafi seperti menangisi kecupan hujan untuk bangkai-bangkai bunga yang akan membusuk hari ini. Lin membuatku teringat kata-kata pujangga lama, ”hujan tercipta dari air mata cinta.” Andaikan saja Rafi mengerti jika air mata Lin begitu mistis, apakah ia masih menyamakan Lin dengan baju safari yang juga banyak digelar di pasar loak?
Uuuffff… tetapi kupikir dalam episode ini ada baiknya juga jika Rafi melepeh Lin. Apa yang bisa diharapkan Rafi dari perempuan yang tidak bisa bangun pagi itu? Tidak ada. Dan aku tahu pasti kalau Lin tidak pandai membuat kopi. Lin cuma bisa menjadi tukang dongeng sambil menggigiti tepi-tepi kukunya. Lin lebih menyerupai tikus betina yang mengerikiti remah-remah makanan. Bukan karena ia kelaparan. Melainkan karena takdir binatang pengerat seperti tikus adalah mengerikiti.
Sssttt… aku tidak sampai hati mengatakannya terus terang pada Lin. Sebab aku melihat setetes sakit menggelinding dari matanya. Dengan cepat dihapusnya sebelum sakit-sakit yang lain susul-menyusul rontok dari sana. Diam-diam, aku sempat melihat apa warnanya.
Lin
Aku ingin menyakinkan Tato bahwa yang kukatakan padanya adalah sebuah kejujuran. Bukan sekadar cerita karanganku. Maka kukibaskan seluruh basahku sampai Tato terkejut ketika melihat sebagian kanvasnya terciprati olehku.
Ada bercak hijau di atas merah seperti hujan di atas ciuman.
Qing qing de yi ge wen
Yi jing da dong wo de xin
Shen shen de yi duan qing
Jiao wo si nian dao ru jin
”Lin…apakah kita berpakaian atau tidak saat berciuman di bawah hujan?” Aku tak akan pernah bisa melupakan suara Rafi. Suaranya kuingat baik dalam keadaan bangun, tidur, atau mimpi. Karena kalaupun saat ini aku sekarat, hanya suara Rafi yang bisa memanggilku hidup kembali.***

(Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan.)

Speech About Drugs

Drugs


    Honorable at Mrs. Erna as our teacher, and all of my friends. Let us pray to God, because of with His blessing so that we can gather here, and today I will give a speech about drugs.
    
    In Indonesia, the number of drug users is so great, because of weak law enforcement in Indonesia international dealers to cooperate with Indonesian citizens and earn huge profits. Narcotics Abuse and other additives that would impact a broad and complex. As a result such as behavior change, health problems, decreased work productivity drastically, crime and other violence.

    Drug abuse can be prevented through programs such as attend social activities, do not associate with drug users or dealers, not easily influenced solicitation or seduction to use drugs. Drug users are usually dominated by the youth and school children.

    Schools also provide counseling to the students about the dangers and consequences of drug abuse through Master BP, discussions involving the students in planning for intervention and prevention of drug abuse in schools. Another important program is the program of Narcotics alert by recognizing the characteristics of students who use drugs, be aware of the unknown guests or traffickers, perform impromptu raid.

    Usually dealers and users in
school been well aware of school programs for the prevention of the user or users in school, they do anticipate the course as best they can. Any clever tips them, like as smart-smart squirrel jumping, eventually falling as well. Moves the school is telling avoid detection they control, but given the addictive nature of the drug and dosage Demand is higher then the discipline is also a safe way will unfold

    For that let us avoid and stay away from drug use and active combat. That the speech that I can say if there is an error in speech, I apologize. For your attention I thank you and my end.